Analisis Teknikal Menggunakan Indikator Moving Average

Moving average (MA) adalah salah indikator yang berguna untuk “memperhalus” pergerakan harga. MA mencari rata-rata harga penutupan dari sebuah currency pair untuk periode tertentu. Untuk memasukkan indikator ini ke tampilan grafik Anda, cukup klik tombol “Insert”, “Indicator”, “Trend”, pilih “Moving Average” seperti contoh di bawah ini:

Setelah itu, Anda tinggal memasukkan angka di kolom “Period”. Jika Anda memasukkan angka 10, maka indikator akan mengambil harga penutupan dari 10 candlestick terakhir dan mencari rata-rata dari 10 candlestick tersebut. Maka dari itu, makin banyak angka period yang dimasukkan, maka makin “halus” garis MA yang terbentuk.

Makin halus garis yang muncul, biasanya makin lambat indikator MA bereaksi terhadap pergerakan harga. Sebaliknya, jika garis yang terbentuk semakin kasar, maka ia akan bereaksi lebih cepat terhadap pergerakan harga.

Ada dua jenis MA yang biasa digunakan oleh para trader, yakni simple moving average (SMA), serta exponential moving average (EMA). MRG Trade akan bahas satu persatu.


Simple moving average

Simple moving average (SMA) adalah jenis MA yang paling sederhana di analisis forex. Perhitungan SMA pun terbilang sederhana. Jika Anda memasukkan angka 5 di kolom period di time frame 1 jam (H1), maka indikator akan menjumlahkan lima harga penutupan terakhir, lalu hasilnya dibagi 5. Gampang, bukan?

Pentingnya untuk mengetahui dasar dari SMA ini agar Anda bisa mengedit dan memaksimalkan setingan indikator ini sesuai dengan yang diinginkan. Dengan demikian, Anda bisa menyusun strategi yang berbeda ketika menghadapi situasi pasar yang berbeda.

Perlu diketahui bahwa kinerja SMA sifatnya tertunda. Anda hanya bisa melihat pergerakan umum yang sudah terjadi dan kemungkinan arah pergerakan harga berikutnya. Namun, MA tidak akan bisa memberikan kepastian ke mana harga akan bergerak! Berikut contoh penerapan SMA di grafik MT4:

Terlihat pada gambar di atas, makin tinggi angka period yang dimasukkan, makin lamban garis tersebut mengikuti pergerakan harga. Lihat bagaimana garis 50 SMA pergerakannya tidak selincah garis 10 SMA. Hal ini dikarenakan garis 50 SMA adalah nilai penutupan rata-rata dari 50 candlestick terakhir.

Dari ketiga garis SMA ini, kita bisa melihat seperti apa sentimen yang sedang terjadi di pasar forex. Di sini, kita bisa melihat bahwa pasar sedang terjadi uptrend, nampak dari ketiga garis SMA yang bergerak naik. Setelah itu pasar bergerak mendatar yang mengindikasikan bahwa tidak ada trend yang sedang terjadi, alias ranging.

Indikator MA memberikan kita pandangan yang lebih luas mengenai kondisi pasar forex dibandingkan dengan pergerakan harga yang sedang terjadi saat ini. Dengan ini, kita bisa mengukur ke manakah pergerakan yang akan terjadi berikutnya.

Kekurangan dari SMA yakni sangat mudah dipengaruhi oleh pergerakan harga yang terjadi secara tiba-tiba, seperti misalnya saat pengumuman berita penting. Pergerakan yang tiba-tiba ini sangat mungkin memberikan sinyal palsu kepada para trader.

Untuk menghindari sinyal palsu seperti ini, ada cara yang bisa kita tempuh, salah satunya adalah menggunakan exponential moving average (EMA).


Exponential moving average

Dibandingkan dengan SMA, exponential moving average (EMA) tidak mudah dipengaruhi oleh pergerakan harga yang tiba-tiba. Sebagai contoh, jika kita menggunakan 10 SMA untuk timeframe H1, maka indikator akan mencari rata-rata harga penutupan 10 candlestick terakhir.

Jika di salah satu candlestick terjadi lonjakan harga, maka keseluruhan nilai SMA akan naik dan mengakibatkan kita mendapatkan sinyal yang tidak akurat. Namun dengan menggunakan EMA, kita akan mendapatkan sinyal yang lebih akurat dikarenakan EMA lebih menitikberatkan pada pergerakan harga yang lebih baru dibandingkan dengan pergerakan harga rata-rata. MRG Trade menggunakan gambar di bawah sebagai contoh.

Bisa dilihat pada gambar di atas garis biru (EMA) selalu bergerak lebih dekat dengan candlestick dibandingkan dengan garis merah (SMA). Hal ini berarti EMA lebih merepresentasikan pergerakan harga terbaru dan memberikan penekanan kepada apa yang baru saja terjadi. Sebagai trader, tentunya Anda ingin mendapatkan update terkini dibandingkan dengan apa yang sudah terjadi beberapa waktu yang lalu bukan?


SMA vs EMA

Sampai di sini, mungkin Anda akan bertanya, manakah indikator MA yang lebih baik? Jawabannya tergantung dari Anda sendiri sebenarnya. Jika Anda menginginkan indikator yang bereaksi lebih cepat terhadap pergerakan harga, seperti misalnya di awal-awal trend, maka EMA adalah pilihan yang tepat.

Dengan EMA Anda bisa mendeteksi trend lebih awal dan pastinya keuntungan yang didapatkan akan lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang menunggu konfirmasi akan adanya trend.

Kekurangan dari EMA adalah sinyal yang kurang akurat pada saat pasar sedang konsolidasi. Dikarenakan indikator bereaksi dengan cepat terhadap perubahan harga, Anda mungkin beranggapan bahwa trend sedang terbentuk, padahal yang terjadi hanyalah lonjakan harga.

Namun jika Anda ingin membaca arah trend yang sedang terjadi, maka SMA dengan periode yang panjanglah yang paling tepat. Meskipun SMA bereaksi dengan lambat terhadap pergerakan harga, Anda bisa terhindari dari lonjakan harga yang terjadi tiba-tiba. Kekurangan SMA adalah Anda mungkin akan ketinggalan momen yang penting saat sedang terjadi trend yang mungkin bisa memberikan Anda banyak keuntungan.

Ada juga trader yang menggunakan SMA dan EMA secara berbarengan untuk memberikan gambaran yang lebih luas mengenai apa yang sedang terjadi di pasar forex. SMA dengan periode yang panjang digunakan untuk membaca trend harga, sedangkan EMA digunakan untuk mencari kapan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar.


Mengidentifikasi trend menggunakan MA

Sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa MA bisa digunakan untuk mengetahui pergerakan trend. Namun bagaimana caranya? Nah, sederhananya seperti ini; ketika pergerakan harga terus berada di ATAS garis MA ini berarti sedang terjadi UPTREND. Namun jika pergerakan harga terus terjadi di BAWAH garis MA, ini artinya sedang terjadi DOWNTREND.

Masalahnya, metode ini terlalu sederhana. Lonjakan harga sering memberikan sinyal palsu. Di bawah ini kita bisa melihat candlestick yang panjang terbentuk menandakan adanya lonjakan harga, namun ternyata harga terus naik.

Namun ternyata sinyal yang diberikan tidak tepat! Harga kembali naik setelah sempat membentuk dua candlestick yang terlihat bearish.

Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya kita memasukkan lagi sebuah garis MA namun dengan periode yang lebih besar. Dengan demikian kejadian di atas bisa kita hindari. Pada contoh gambar di bawah, kami sudah menambahkan MA dengan periode 20 selain MA dengan periode 10:

Perhatikan bagaimana garis SMA 20 (biru) selalu berada di bawah garis SMA 10 (merah). Dengan menggunakan kombinasi dua SMA ini, Anda bisa mengonfirmasi mengenai trend yang sedang terjadi, jadi Anda akan terhindar dari fakeout atau sinyal MA yang tidak akurat akibat adanya lonjakan harga.


Cari sinyal masuk pasar dengan crossover

Dalam pengertiannya, crossover adalah persilangan antara dua garis MA dengan periode yang berbeda. Bila dua garis MA saling bersilangan, ini adalah sebuah tanda bahwa sebuah trend akan segera berganti arah pergerakannya. Menggunakan sinyal ini, Anda bisa mendeteksi lebih awal kapan trend akan berbalik arah dan buka order di saat yang tepat.

Berikut contoh dari crossover:

Dilihat dari contoh gambar di atas, garis SMA 10 (merah) memotong garis SMA 20 (biru) yang pergerakannya lebih lambat. Jika mengikuti sinyal ini, Anda bisa membukukan ratusan pip dalam waktu yang singkat! Keren kan?!

Kami di MRG Trade menemukan kekurangannya, yaitu metode ini hanya bagus di saat pasar sedang trending. Namun di saat pasar sedang sideways atau konsolidasi, Anda bisa jadi mendapatkan banyak sekali crossover.

Seperi misalnya pada gambar di atas. Setelah crossover yang merupakan permulaan dari sebuah downtrend, pasar kemudian bergerak sideways. Terlihat ada banyak sekali crossover yang terjadi, tetapi dengan tidak adanya trend akan sulit sekali membukukan keuntungan. Yang ada, Anda akan terus terkena stop loss jika buka order setiap adanya crossover.


MA sebagai support & resistance “dinamis”

Fungsi lainnya dari indikator moving average adalah bisa digunakan sebagai support & resistance yang sifatnya dinamis. Kalau biasanya kita menggunakan garis horizontal untuk menentukan level support & resistance, maka kali ini kita akan menggunakan garis MA yang gerakannya mengikuti perkembangan harga.

Mari kita lihat contoh di bawah ini menggunakan pair EUR/USD dengan SMA 50.

Bisa dilihat bahwa SMA 50 di sini bisa berfungsi sebagai support karena harga tak pernah bergerak di bawah garis ini. Harga memang bergerak turun, namun tak mampu menutup di bawah garis SMA 50 di periode tersebut. Namun perlakukan support & resistance sama dengan support & resistance yang standar (garis horizontal). Maksudnya, tak selamanya garis MA sebagai support selalu dipatuhi oleh pasar.

Oleh karena itu, banyak trader menggunakan dua garis MA dan hanya open order di saat harga masuk ke “zona” yang tercipta di antara kedua garis tersebut. Mari kita lihat contohnya di bawah ini:

Di saat kondisi pasar sedang downtrend seperti di atas, kita bisa menggunakan metode ini untuk menentukan waktu terbaik untuk masuk pasar dan mencetak keuntungan setiap buka order. Perhatikan bagaimana harga selalu bergerak turun saat masuk ke “zona” yang berada di antara garis SMA 30 dan SMA 60.


Pergantian support & resistance dinamis ala moving average

Seperti support & resistance yang berbentuk garis horizontal, ada kalanya harga bergerak menembus garis support & resistance dinamis yang sudah kita bentuk. Uniknya, garis MA yang tadinya berfungsi sebagai support, namun setelah harga bergerak menembusnya garis MA tersebut beralih fungsi sebagai resistance. Berikut contohnya:

Terlihat setelah menjadi support yang cukup kuat selama beberapa waktu, ketika harga melanggar garis MA lalu garis tersebut beralih fungsi sebagai resistance. Unik bukan?

Namun perlu diketahui, bahwa penggunaan indikator MA ini sangatlah tergantung dari masing-masing trader yang menggunakannya. SMA atau EMA, serta berapa period yang digunakan sangatlah subjektif dari kacamata masing-masing trader.

Artikel selanjutnya, MRG Trade akan membahas indikator-indikator lainnya yang memiliki fungsi unik namun sangat berguna untuk membuat keputusan trading yang tepat. Penasaran? Yuk, klik tombol di bawah untuk lanjut ke artikel tersebut:

Indikator Pengukur Trend yang Paling Populer di Kalangan Trader

MRG Trade

Recent Posts

Forex Signal 2 April 2020

USDCHF Sell Stop 0.95801 Stop Loss 0.96349 Take Profit 0.95156 The post Forex Signal 2…

1 day ago

Forex Signal 1 April 2020

AUDJPY Buy Stop 68.028 Stop Loss 67.025 Take Profit 69.348 CADJPY Sell Stop 75.264 ...…

2 days ago

Forex Signal 30 Maret 2020

NZDJPY Sell Stop 63.492 Stop Loss 64.095 Take Profit 62.855 EURJPY Buy Stop 120.000 ...…

4 days ago

Forex Signal 26 Maret 2020

USDCHF Sell Stop 0.96758 Stop Loss 0.97570 Take Profit 0.95364 USDCAD Sell Stop 1.41095 ...…

1 week ago

Forex Signal 24 Maret 2020

USDCHF Sell Stop 0.97323 Stop Loss 0.98046 Take Profit 0.96300 The post Forex Signal 24…

1 week ago

Forex Signal 23 Maret 2020

NZDJPY Sell Stop 60.995 Stop Loss 61.615 Take Profit 60.375 AUDJPY Buy Stop 64.194 ...…

2 weeks ago